Guru Sebagai Murabbi, Bukan Sekadar Pengajar
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ . اِتَّقُوْا اللهَ ,اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan tidak hanya mengajarkan kita bagaimana menjadi hamba yang baik di hadapan Allah, tetapi juga bagaimana menjalankan amanah kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Di antara amanah yang sangat menentukan masa depan umat adalah mendidik generasi. Ketika kita berbicara tentang pendidikan, kita sedang berbicara tentang menyiapkan manusia menjalani kehidupannya dengan ilmu, iman, dan akhlak.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Coba kita renungkan sejenak. Apa yang kita harapkan dari seorang guru? Apakah cukup guru membuat muridnya memperoleh nilai yang tinggi? Apakah cukup dengan anak mampu menghafal banyak pelajaran, menyelesaikan soal, meraih prestasi, lalu lulus ujian? Tentu semua itu penting. Namun, pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal. Sebab yang sedang kita persiapkan bukan sekadar anak yang pandai mengerjakan ujian, tetapi manusia yang kelak hidup di tengah keluarga, masyarakat, dan bangsa. Anak yang cerdas, tetapi tidak jujur, dapat menggunakan kecerdasannya untuk melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Anak yang berprestasi, tetapi kehilangan empati, dapat menjadikan keberhasilannya sebagai alasan untuk merendahkan sesama. Anak yang luas pengetahuannya, tetapi miskin adab memang memiliki banyak ilmu, tetapi belum tentu menghadirkan kemaslahatan.
Karena itu, tugas seorang pendidik tidak berhenti pada menyampaikan pengetahuan. Ada tugas yang lebih dalam, yaitu membimbing manusia agar ilmu yang dimilikinya tumbuh menjadi sikap, akhlak, dan tanggung jawab.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt. menggambarkan misi pendidikan yang dibawa oleh Rasulullah saw. melalui doa Nabi Ibrahim a.s.:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ
”Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 129)
Perhatikanlah susunan ayat tersebut. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang ta’lim, mengajarkan ilmu. Tetapi juga ada tazkiyah, yaitu membina dan menyucikan diri. Artinya, pendidikan bukan hanya membuat seseorang ”tahu”, tetapi juga membentuk dirinya menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. juga berfirman:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ
Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan kenabian oleh Allah, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukan (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya dia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 79)
Ayat ini mengajarkan bahwa pendidikan dalam Islam tidak berhenti pada aktivitas mengajar. Seorang pendidik juga dituntut untuk terus belajar, membina diri, dan menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam proses pendidikan.
Di sinilah kita memahami pentingnya sosok murabbi, pendidik yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing pertumbuhan pribadi peserta didiknya. Ia memberi keteladanan dan mengarahkan agar ilmu tidak berhenti di dalam pikiran, tetapi tumbuh dalam perilaku.
Guru boleh jadi mengajarkan banyak hal yang tidak tertulis di dalam buku pelajaran. Ketika guru datang tepat waktu, ia sedang mengajarkan kedisiplinan. Ketika guru berkata jujur, ia sedang mengajarkan kejujuran. Ketika guru mengakui kesalahan dan meminta maaf, ia sedang mengajarkan kerendahan hati. Bagi seorang murid, perilaku guru sering kali menjadi pelajaran sebelum kata-katanya menjadi pelajaran.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Rasulullah saw. adalah teladan utama dalam mendidik manusia. Beliau tidak mendidik dengan kekerasan hati, apalagi dengan mempersulit. Beliau bersabda:
إِنَّ اللّٰهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang mempersulit atau mencari-cari kesulitan. Akan tetapi, Dia mengutusku sebagai seorang pendidik yang memudahkan.” (H.R. Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa mendidik adalah membantu menjalankan kebenaran dengan cara yang bijaksana. Oleh karena itu, seorang guru membutuhkan ilmu sekaligus kepekaan hati.
Setiap anak memiliki latar belakang yang berbeda. Ada anak yang cepat memahami pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang berani bertanya. Ada pula yang takut dianggap tidak mampu. Ada anak yang tumbuh dalam keluarga yang penuh perhatian. Ada pula yang datang ke sekolah dengan membawa persoalan keluarga. Guru tidak cukup pandai menyampaikan materi. Guru juga perlu belajar memahami manusia. Mengajar bukan hanya mengisi kepala, tetapi juga membimbing hati.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Tantangan pendidikan hari ini pun semakin kompleks. Dahulu, ketika anak ingin mengetahui sesuatu, ia harus bertanya kepada guru atau membaca buku. Kini, melalui telepon genggam, berbagai informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik. Bahkan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence, seseorang dapat memperoleh jawaban dengan sangat cepat. Namun, kecepatan mendapatkan jawaban tidak selalu berarti mendapatkan kebenaran.
Teknologi dapat memberikan informasi, tetapi banyak informasi yang perlu diperiksa. Banyak jawaban yang perlu dipertimbangkan. Tidak segala sesuatu yang bisa dilakukan berarti baik untuk dilakukan. Di sinilah peran guru sebagai murabbi justru semakin penting. Guru perlu membantu murid menilai apakah informasi itu benar dan bermanfaat.
Teknologi dapat menghasilkan jawaban, tetapi guru menanamkan kejujuran dalam menggunakan jawaban tersebut. Teknologi dapat membantu pekerjaan manusia, tetapi guru mengajarkan tanggung jawab agar teknologi tidak digunakan untuk merugikan sesama.
Semakin berkembang teknologi, bukan berarti guru tidak dibutuhkan. Justru di tengah derasnya arus informasi, kita semakin membutuhkan guru yang mampu membimbing manusia agar tetap memiliki arah, nilai, dan akhlak.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Wahai, Para guru. Marilah kita bertanya kepada diri sendiri. “Sudahkah kehadiran saya membantu anak-anak menjadi manusia yang lebih baik?”
Wahai, Para orang tua. Jangan hanya bertanya, “Berapa nilai anak saya?” Sesekali mari kita tanyakan pula, “Apakah anak saya sudah belajar jujur? Apakah ia mampu menghormati orang lain? Apakah ia berani mengakui kesalahan dan meminta maaf? Apakah ilmu yang dipelajarinya membuatnya semakin dekat kepada Allah?”
Keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika anak mampu menjawab soal ujian. Keberhasilan pendidikan lebih bermakna ketika anak semakin mengenal Allah, semakin menghormati manusia, semakin bertanggung jawab, dan semakin baik akhlaknya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Menjadi murabbi bukan berarti harus sempurna. Guru juga manusia yang bisa salah dan lupa. Namun, guru harus terus berusaha menjadi teladan, terus belajar, dan terus memperbaiki diri.
Demikian pula orang tua. Pendidikan tidak dapat sepenuhnya diserahkan pada sekolah. Rumah adalah madrasah pertama, sedangkan guru di sekolah adalah ikhtiar bersama untuk membentuk generasi. Karena itu, mari kita bangun pendidikan yang tidak hanya mengejar kecerdasan, tetapi juga menumbuhkan kejujuran. Tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menanamkan tanggung jawab. Tidak hanya memperbanyak pengetahuan, tetapi juga membangun adab.
Semoga Allah Swt. Memberikan keikhlasan dalam mendidik kepada para guru. Juga kesabaran dalam membimbing, keluasan hati dalam menghadapi peserta didik, dan kekuatan untuk menjadi teladan. Semoga Allah Swt. membimbing para orang tua dalam mendampingi putra-putrinya. Menganugerahkan kepada anak-anak kita ilmu yang bermanfaat, iman yang kuat, akhlak yang mulia, dan kemampuan untuk menggunakan ilmu bagi kemaslahatan agama dan bangsa.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Jika Anda membutuhkan sitasi pada Buku Digital ini, silahkan generate secara otomatis menjadi format APA, MLA, IEEE, Chicago, Harvard, dan Turabian.
Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.
* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.