Islam dan Keadilan atas Perempuan
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِمَنْ أَرَادَ الْفَلَاحَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jemaah sekalian, mari kita tingkatkan takwa kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaannya, jabatannya, kegantengannya, atau oleh jenis kelaminnya. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan atau kemiskinannya, kekuatan atau kelemahannya fisiknya. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49): 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Ayat ini meletakkan sebuah prinsip yang sangat mendasar, yakni bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya. Kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya. Karena itu, ketika Islam datang, salah satu perubahan besar yang dibawanya adalah mengoreksi cara pandang manusia terhadap perempuan, termasuk terhadap anak perempuan.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Kita perlu mengingat kembali sebuah kenyataan sejarah. Pada sebagian masyarakat Arab sebelum Islam, kelahiran anak perempuan dapat dipandang sebagai sesuatu yang memalukan.
Al-Qur’an menggambarkan keadaan itu dengan sangat tajam. Allah berfirman dalam QS. Al-Nahl (16): 58–59:
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
“Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah (sedih dan malu). Dia bersembunyi dari orang banyak karena kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah, alangkah buruk (putusan) yang mereka tetapkan itu!”
Perhatikan baik-baik penuturan Al-Qur’an. Kelahiran anak perempuan disampaikan dengan menggunakan diksi busysyira—yang berarti diberi kabar gembira. Ini menunjukkan cara Al-Qur’an memuliakan perempuan. Tetapi kebanyakan manusia pada masa itu justru menganggap kelahiran anak perempuan sebagai kabar buruk. Di sinilah Al-Qur’an melakukan koreksi terhadap sebuah cara berpikir. Allah menyebutnya sebagai anugerah dan kabar gembira, ketika banyak manusia yang menyebutnya sebagai beban. Allah memberikan kehidupan. Manusia justru merasa malu atas kehidupan yang diberikan. Maka persoalannya bukanlah pada anak perempuan. Persoalannya ada pada cara pandang manusia terhadap anak perempuan.
Imam al-Thabari dalam Jāmi‘ al-Bayān menjelaskan bahwa ayat itu menggambarkan keadaan orang musyrik yang merasa sedih dan malu ketika memperoleh anak perempuan. Bahkan dalam penjelasan riwayat yang beliau bawakan, terdapat gambaran bahwa sebagian masyarakat jahiliah sampai mengubur anak perempuan hidup-hidup.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Karena itulah Allah tidak hanya melarang pembunuhan anak, tetapi juga membongkar alasan-alasan yang digunakan manusia untuk membenarkannya. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ (17): 31:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
“Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar..”
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Namun diskriminasi tidak selalu berbentuk pembunuhan. Zaman berubah, bentuknya bisa berubah, tetapi cara berpikirnya kadang-kadang masih bertahan. Diskriminasi terjadi muncul ketika anak laki-laki dianggap lebih berharga daripada anak perempuan. Ketika pendidikan anak laki-laki diprioritaskan, sementara pendidikan anak perempuan dianggap sekadar pelengkap. Ketika anak laki-laki diberi ruang untuk bermimpi setinggi-tingginya, sementara anak perempuan diminta untuk tidak memiliki cita-cita terlalu jauh. Ketika keberhasilan anak laki-laki dirayakan sebagai kebanggaan keluarga, sementara keberhasilan anak perempuan dianggap biasa. Bahkan kadang-kadang, tanpa kita sadari, perbedaan perlakuan itu masuk ke dalam rumah melalui kalimat-kalimat sederhana:
“Namanya juga perempuan.”
“Perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi.”
“Yang penting nanti bisa mengurus rumah.”
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Islam tidak merendahkan fungsi keluarga. Islam justru memuliakan keluarga. Tetapi memuliakan peran perempuan di dalam keluarga tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan potensi anak perempuan. Anak perempuan adalah manusia yang memiliki akal, hati, kehormatan, potensi, dan masa depan. Ia berhak tumbuh dengan kasih sayang. Berhak memperoleh pendidikan. Berhak mendapatkan perlindungan. Berhak didengar, dan berhak tumbuh menjadi manusia salehah yang memberikan manfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah saw. bahkan memberikan perhatian khusus terhadap cara memperlakukan anak perempuan. Dalam Shahih al-Bukhari, dari Aisyah r.a., dikisahkan seorang ibu datang bersama dua anak perempuannya. Ia tidak memiliki apa-apa kecuali satu butir kurma. Kurma itu diberikan dan dibagi kepada kedua anaknya. Ketika kisah itu disampaikan kepada Rasulullah saw. beliau menjelaskan bahwa orang yang mengasuh anak perempuan dan memperlakukannya dengan baik, anak-anak perempuan itu dapat menjadi pelindung baginya dari api neraka.
Perhatikan bagaimana Islam mengubah perspektif. Dalam budaya jahiliah, anak perempuan dipandang sebagai beban. Dalam ajaran Rasulullah saw., merawat dan memuliakan anak perempuan justru menjadi jalan keselamatan.
Bagian ini menunjukkan perubahan paradigma yang luar biasa. Sesuatu yang sebelumnya dianggap beban, justru oleh Islam dijadikan sebagai amanah. Sesuatu yang sebelumnya dianggap aib, justru Islam menganggapnya sebagai kemuliaan. Apa yang dulu ingin disingkirkan, Islam justru memerintahkan manusia untuk melindungi dan memperlakukannya dengan baik.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Islam tidak mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan harus menjadi sama dalam seluruh hal. Allah menciptakan manusia dengan karakter, tanggung jawab, dan peran yang beragam. Tetapi perbedaan bukan alasan untuk merendahkan. Perbedaan bukan alasan untuk menghilangkan hak. Perbedaan bukan alasan untuk melakukan kekerasan. Dan perbedaan bukan alasan untuk mengatakan bahwa satu jenis kelamin lebih mulia daripada yang lain secara mutlak.
Ukuran kemuliaan di hadapan Allah kembali kepada takwa, sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49): 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa..”
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا، وَتَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Jika Anda membutuhkan sitasi pada Buku Digital ini, silahkan generate secara otomatis menjadi format APA, MLA, IEEE, Chicago, Harvard, dan Turabian.
Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.
* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.