Menegaskan Jatidiri Santri
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ أَصْحَابِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya takut kepada Allah, tetapi kesadaran untuk menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjaga amanah dan menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan.
Setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Hari Santri bukan sekadar sebuah tanggal dalam kalender. Hari Santri adalah momentum untuk mengenang kembali sejarah perjuangan ulama dan santri, sekaligus merenungkan kembali tanggung jawab santri terhadap masa depan bangsa.
Tema Hari Santri tahun 2026 adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini membawa pesan yang sangat dalam. Santri bukan hanya pewaris masa lalu. Santri adalah penanggung jawab masa depan. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan menguatkan negeri? Apakah negeri menjadi kuat hanya karena ekonominya tumbuh? Apakah negeri menjadi kuat hanya karena infrastrukturnya megah? Apakah negeri menjadi kuat hanya karena teknologinya maju? Tentu tidak.
Negeri yang kuat adalah negeri yang masyarakatnya mendapatkan keadilan. Negeri yang kuat adalah negeri yang orang lemahnya tidak ditinggalkan. Negeri yang kuat adalah negeri yang kekuasaan dijalankan sebagai amanah. Negeri yang kuat adalah negeri yang kemajuan dan kemakmurannya dirasakan oleh sebanyak-banyaknya rakyat.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah
Kita mengenal 22 Oktober 1945 sebagai momentum penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada saat kemerdekaan yang baru diproklamasikan menghadapi ancaman, para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad. Pesantren bergerak. Para santri bergerak. Masyarakat bergerak. Semuanya bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sejarah itu mengajarkan kepada kita bahwa pesantren tidak pernah berdiri di luar persoalan bangsa. Ketika agama membutuhkan pengabdian, santri hadir. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, santri hadir. Ketika kemerdekaan membutuhkan pengorbanan, santri hadir. Dari sanalah kita belajar bahwa menjadi santri bukan sekadar pandai membaca kitab kuning. Menjadi santri berarti bersedia mengabdikan ilmu untuk kemaslahatan manusia.
Dulu santri berjihad mempertahankan kemerdekaan. Hari ini santri berjihad mengisi kemerdekaan. Dulu tantangannya adalah penjajahan. Hari ini para santri menghadapi tantangan yang berbeda. Hari ini santri dan pesantren menghadapi kebodohan, kemiskinan, korupsi, dan juga ketidakadilan. Hari ini kita menghadapi tantangan berupa kesenjangan, perpecahan, dan juga kerusakan lingkungan. Dan kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan baru, yaitu penyalahgunaan teknologi. Dari sisi kebangsaan, kita juga menghadapi masalah berupa krisis keteladanan.
Maka jihad santri hari ini harus menemukan bentuk baru. Jihad melawan kebodohan dengan ilmu. Jihad melawan kemiskinan dengan pemberdayaan. Jihad melawan korupsi dengan integritas. Jihad melawan perpecahan dengan persaudaraan. Jihad melawan kerusakan lingkungan dengan menjaga bumi. Dan jihad melawan kezaliman dengan keadilan.
Jemaah Jumat rahimakumullah
Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa keberpihakan kepada mereka yang tertindas adalah bagian dari tanggung jawab orang beriman, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt.:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
“Dan mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’” (Q.S. An-Nisa [4]: 75).
Ayat ini memberikan pelajaran penting. Santri harus berpihak kepada keadilan, bukan kepada kezaliman. Membela agama bukan berarti membela setiap tindakan orang yang mengatasnamakan agama. Membela bangsa bukan berarti membenarkan semua tindakan orang yang mengatasnamakan bangsa. Menghormati pemimpin bukan berarti membenarkan kesalahan pemimpin. Mencintai kelompok sendiri bukan berarti membenarkan kesalahan kelompok sendiri. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلّٰهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ، وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا، اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ، وَاتَّقُوا اللّٰهَ، إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 8).
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah
Inilah salah satu kekuatan pendidikan pesantren. Pesantren mengajarkan adab. Tetapi adab bukan berarti takut kepada manusia. Pesantren mengajarkan tawaduk. Tetapi tawaduk bukan berarti membiarkan kezaliman. Pesantren mengajarkan taat. Tetapi ketaatan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab moral.
Santri harus mampu menghormati tanpa menyembah, mengkritik tanpa menghina, berbeda tanpa membenci dan membela tanpa membabi buta.
Santri harus membela kebenaran karena kebenarannya, bukan karena siapa yang menyampaikannya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” juga mengajak kita melihat masa depan Indonesia. Indonesia Emas tidak dapat diwujudkan hanya dengan pembangunan fisik. Indonesia Emas membutuhkan manusia yang unggul, berilmu, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial.
Di sinilah pesantren memiliki peran penting. Pesantren harus melahirkan santri yang kuat ilmu agamanya, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman. Santri yang memahami kitab kuning, tetapi tidak gagap menghadapi teknologi. Santri yang memahami turats, tetapi mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan modern. Santri yang memiliki spiritualitas, tetapi juga mempunyai keterampilan. Santri yang saleh secara pribadi, tetapi juga bermanfaat secara sosial.
Dalam konteks pembangunan nasional, Asta Cita membuka ruang pengabdian yang luas bagi santri. Ketika bangsa memperkuat ideologi Pancasila, demokrasi dan kehidupan kebangsaan, santri hadir membawa tradisi ukhuwah, persaudaraan dan toleransi.
Ketika bangsa membangun kemandirian pangan, energi dan air, pesantren dapat menjadi pusat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketika bangsa meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pesantren memiliki pengalaman panjang dalam mendidik manusia. Ketika ekonomi nasional bergerak menuju hilirisasi dan ekonomi hijau, pesantren dapat menjadi pusat kewirausahaan sekaligus penjaga lingkungan. Ketika reformasi hukum dan birokrasi diperkuat, nilai amanah, integritas, kejujuran dan khidmah yang diajarkan pesantren harus hadir dalam kehidupan publik. Ketika persatuan dan keamanan bangsa harus dijaga, santri harus menjadi kekuatan yang merawat kedamaian. Dan ketika Indonesia memainkan peran lebih besar di dunia, santri dapat membawa wajah Islam Indonesia yang damai, berkeadaban dan menghargai kemanusiaan.
Namun, jemaah yang dimuliakan Allah
Jangan sampai kita memahami pembangunan hanya sebagai pembangunan benda. Bangsa pada akhirnya dibangun oleh manusia. Jalan boleh lebar, tetapi kalau manusianya sempit hati, negeri tidak akan menjadi besar. Gedung boleh tinggi, tetapi kalau kejujuran runtuh, bangsa kehilangan fondasi. Teknologi boleh canggih, tetapi kalau akhlak tertinggal, kemajuan dapat berubah menjadi masalah. Ekonomi boleh tumbuh, tetapi kalau keadilan tidak tumbuh bersamanya, kemajuan hanya dinikmati oleh sebagian orang.
Karena itu, Indonesia Emas harus menjadi Indonesia yang maju sekaligus berkeadilan. Indonesia yang kuat tetapi tidak menindas. Indonesia yang makmur tetapi tidak meninggalkan orang miskin. Indonesia yang modern tetapi tidak kehilangan adab. Indonesia yang maju tetapi tetap memiliki hati nurani.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah
Mari kita warisi semangat Resolusi Jihad. Bukan hanya tanggalnya. Bukan hanya seremoninya. Bukan hanya atributnya. Tetapi keberaniannya. Keberanian untuk berbuat. Keberanian untuk berkorban. Keberanian untuk membela yang lemah. Keberanian untuk mengatakan yang benar adalah benar. Dan keberanian untuk mengatakan yang zalim adalah zalim.
Sebab, jihad pada hari ini adalah jihad pengabdian. Jihad mencerdaskan. Jihad memberdayakan. Jihad menyejahterakan. Jihad menjaga persatuan. Jihad menjaga lingkungan. Jihad menjaga amanah. Dan jihad menegakkan keadilan.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari generasi yang mampu mengisi kemerdekaan dengan amal saleh. Semoga para santri menjadi generasi yang mampu menyambungkan warisan ulama dengan kebutuhan zaman. Dan semoga Indonesia menjadi negeri yang maju, adil, makmur, dan berkeadaban.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khotbah Kedua
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ أَصْحَابِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَأَصْلِحْ أُسَرَنَا وَأَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَاجْعَلْ أَهْلَهُ أَهْلَ تَقْوًى وَأَمَانَةٍ وَمَحَبَّةٍ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، وَمِنَ الْفُرْقَةِ وَالْعَدَاوَةِ، وَمِنَ الظُّلْمِ وَالْفَسَادِ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا وَاسِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَخْلَاقًا كَرِيمَةً اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِخِدْمَةِ الدِّينِ وَالْوَطَنِ وَالْإِنْسَانِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا سَبَبًا لِخَيْرِ أُسَرِنَا وَمُجْتَمَعِنَا وَبَلَدِنَا. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَأَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا، وَبَارِكْ فِي عُلَمَائِنَا وَمُعَلِّمِينَا وَمُرَبِّينَا. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَىٰ، وَاجْعَلْهُمْ أَهْلَ أَمَانَةٍ وَعَدْلٍ وَحِكْمَةٍ، وَوَفِّقْهُمْ لِخِدْمَةِ الشَّعْبِ وَالْوَطَنِ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِحِفْظِ وَحْدَةِ إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْنَا أَبْنَاءَ وَطَنٍ يَتَعَاوَنُونَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ، وَلَا يَتَعَاوَنُونَ عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ إِنْدُونِيسِيَا بَلَدًا مُتَقَدِّمًا، عَادِلًا، مُزْدَهِرًا، آمِنًا، وَمُتَّحِدًا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا يَسْهَمُ فِي صُنْعِ السَّلَامِ وَالْخَيْرِ لِلْعَالَمِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عَلَيْنَا دِينَنَا، وَاحْفَظْ عَلَيْنَا وَطَنَنَا، وَاحْفَظْ عَلَيْنَا أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاحْفَظْ عَلَيْنَا وَحْدَتَنَا وَسَلَامَنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Jika Anda membutuhkan sitasi pada Buku Digital ini, silahkan generate secara otomatis menjadi format APA, MLA, IEEE, Chicago, Harvard, dan Turabian.
Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.
* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.