Mengurangi Sampah Makanan

Mengurangi Sampah Makanan
Pengarang
Subdit Kepustakaan Islam 
Instansi
Kementerian Agama RI 
Kategori
Lingkungan 
Statistik Data
 
Tgl. Publish
Senin, 12 Oktober 2026 

Mengurangi Sampah Makanan

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ ٱلْكَرِيمِ. وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hadirin jemaah salat jumat yang dirahmati Allah Swt

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa yang sesungguhnya bukan hanya meliputi pelaksanaan ritual formal, seperti mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, berpuasa, berzikir, dan sebagainya. Takwa menuntut komitmen lahir dan batin agar amaliah ibadah membuahkan perilaku yang sesuai dengan tuntunan Allah Swt. Orang yang bertakwa akan mencari dan membelanjakan harta sesuai dengan tuntunan Allah; ia akan konsumsi makanan yang halal dan baik, juga berbuat baik kepada sesama manusia atas dasar ibadah, serta menjaga alam sebagai amanah Allah Swt.

Dengan mementum hari pangan sedunia yang jatuh tiap tanggal 16 Oktober, mari kita renungkan perilaku yang kelihatannya sederhana, tetapi mengandung nilai agama, sosial, ekonomi, kesehatan, dan dampak lingkungan yang cukup signifikan, yakni pemborosan makanan atau food waste. Kita perlu introspeksi diri atau muhasabah; berapa banyak makanan yang kita ambil tetapi tidak dihabiskan? Berapa banyak makanan yang dibeli semata-mata karena dorongan nafsu tetapi akhirnya dibiarkan menjadi sampah? Berapa banyak nasi, lauk, buah, dan makan lainnya berakhir mubazir di tempat sampah, sementara masih banyak orang yang kekurangan makan? Allah berfirman mengelompokkan orang yang boros sebagai kerabat setan. Allah berfirman dalam Surah al-Isra (17) ayat 17:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (Q.S. al-Isra’ [17]: 27).

Sidang Jumat Rahimakumullah

Pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungkan, dari mana sebenarnya datangnya makanan yang setiap hari kita santap? Sepiring nasi yang berada di hadapan kita tidak pernah hadir tiba-tiba. Di balik butiran nasi itu ada tanah yang diolah, air yang menghidupkan, benih yang disemai, sinar matahari yang menumbuhkan, serta keringat para petani yang bekerja dengan penuh ketekunan. Ada begitu banyak sumber daya alam dan manusia yang terlibat sebelum makanan itu akhirnya tiba di meja makan kita.

Karena itu, ketika kita mengambil dan mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya, tetapi kemudian membiarkan dan membuangnya begitu saja, sesungguhnya yang kita buang bukan sekadar makanan. Kita sedang menyia-nyiakan air, tanah, energi, waktu, jerih payah petani, dan limpahan nikmat Allah yang telah dialirkan kepada kita. Betapa sering kita menganggap remeh sesuap nasi karena nilainya terlihat kecil di mata kita, padahal di balik sesuap nasi terdapat proses kehidupan yang panjang dan tidak sederhana.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Peringatan hari pangan sedunia yang jatuh pada 16 oktober 2026, seyogianya tidak sekadar menjadi momentum seremonial, tetapi menjadi kesempatan bagi kita untuk berhenti sejenak, bermuhasabah, dan merenungkan kembali bagaimana kita memperlakukan makanan yang setiap hari hadir di hadapan kita. Ada empat hal yang penting kita perhatikan berkaitan dengan akhlak kita terhadap makanan.

Pertama, Allah melarang sikap berlebihan. Dalam AL-Qur’an, sikap berlebihan disebut isrâf, yang berarti melampaui batas, melewati ukuran semestinya, atau menggunakan sesuatu secara tidak proporsional. Allah berfirman:

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (Q.S. al-A’raf [7]: 31).

Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Islam tidak melarang kita menikmati makanan dan minuman yang halal. Islam membolehkan kita makan apa pun yang halal tetapi melarang kita berbuat melampaui batas dan kewajaran. Inilah isrâf, yakni berlebihan dalam menggunakan nikmat Allah.

Karenanya, bagi seorang muslim tidak cukup hanya dengan memperhatikan kehalalan makanan. Ia juga harus memperhatikan kepatutan jumlah, kebutuhan tubuh, serta dampak dari apa yang dikonsumsinya. Nikmat Allah harus dimanfaatkan secara bijaksana dan tidak berlebih-lebihan. Itulah wujud sikap taat kepada Allah dan syukur kepada-Nya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, Rasulullah saw. bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus melakukannya (makan lebih banyak), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya (HR. al-Tirmidzi No. 2380)

Agama menganjurkan pengendalian diri dan proporsional dalam memenuhi kebutuhan jasmani atau makanan. Makan bukan sekadar memuaskan selera, tetapi memenuhi kebutuhan tubuh tanpa harus melampaui batas kewajaran yang dapat membahayakan kesehatan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kedua, mengendalikan nafsu sebagai dasar etika makan. Dasar penting membangun etika adalah mengendalikan nafsu. Persoalan makanan tidak hanya mencakup kebutuhan biologis, tetapi bagaiman manusia mengelola keinginan, membatasi keserakahan, dan tidak serta merta mengambil apa pun yang tersedia.

Pengendalian diri menjadi kunci perilaku konsumsi. Penelitian yang dilakukan Schanes dan kolega dalam Journal of Cleaner Production melaporkan pemborosan makanan berkaitan dengan kebiasaan, perencanaan, dan perilaku rumah tangga. Maka zero waste atau pengurangan pemborosan makanan seyogianya bermakna bukan sekadar upaya menjaga lingkungan tetapi wujud akhlak dan tanggung jawab keagamaan.

Kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa banyak kuliner yang dapat dinikmati, tetapi lebih pada sikap bijaksana dalam mengendalikan nafsu, mensyukuri rezeki, dan menjaga amanah Allah Swt.

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya) (Q.S. an-Naziat [79]: 40-41).

Ayat ini menerangkan bahwa betapa pentingnya menahan hawa nafsu dan tidak menuruti nafsu dunia yang mengorbankan ketaatan kepada Allah. Mari bergaya hidup sehat dengan membeli makanan secukupnya, tidak berlebihan, dan mengurangi sampah.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ketiga, keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan. Agama Islam memberikan nasihat bahwa hidup yang berkualitas bukan berarti segala sesuatunya terpenuhi, tetapi kehidupan yang dijalani dengan keseimbangan dan kebijaksanaan.

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

…dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya (Q.S. al-Furqon [25]: 67).

Ayat ini menerangkan karakteristik ‘ibadurraḥman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih). Siapakah ‘ibadurraḥman? Yakni orang yang membelanjakan harta sesuai tujuan, kebutuhan, dan tanggung jawab.

Banyak sekali di antara kita yang hanya mengejar tren dan sesuatu yang viral sehingga ikut-ikutan belanja yang tidak sesuai kebutuhan. Perilaku FOMO ini tentu tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan dapat menjerumuskan pada perilaku berlebih.

Sidang Jumat Rahimakumullah

Keempat, kurangi sampah makanan. Masalah yang perlu kita renungkan hari ini adalah kehidupan modern yang sarat food waste. Banyak orang yang didorong oleh lapar mata kemudian membeli banyak makanan, tetapi kemudian menyia-nyiakan hingga akhirnya membua makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi. Kita sering kali membeli sesuatu karena sesuatu itu viral, dibeli banyak orang, bukan karena butuh. Kita sering mengambil makanan terlalu banyak tetapi tidak menghabiskannya.

Perilaku ini perlu direnungkan, sudahkah nilai syukur kepada Allah diamalkan, atau beragama kita hanya sekadar formalitas tanpa berdampak apa-apa. Sikap demikian jika terus dilakukan maka seseorang dapat tergolong manusia yang isrâf atau berlebihan.

Nikmat pangan semestinya digunakan untuk menunjang kehidupan dan kesehatan, bukan sebaliknya digunakan pemenuhan trending agar tidak ketinggalan zaman.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Mari bersama-sama mencegah food waste berbekal takwa dan syukur kepada Allah Swt. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk mengendalikan nafsu, belanja sesuai kebutuhan, dan menghindari perilaku isrâf dan tabdzîr. Takwa dan syukur menuntut aksi nyata dengan menghargai makanan, peduli sosial, dan lingkungan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَنِعَمِهِ وَتَوْفِيقِهِ وَهِدَايَتِهِ، نَحْمَدُهُ عَلَى مَا رَزَقَنَا مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْنَا مِنَ الْخَيْرَاتِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يُوَفِّقَنَا لِحُسْنِ اسْتِعْمَالِ النِّعَمِ، وَاجْتِنَابِ الْإِسْرَافِ وَالتَّبْذِيرِ، وَالْمُحَافَظَةِ عَلَى الْبِيئَةِ وَمَوَارِدِهَا.,أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه, أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُم وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

 

Form Generate Sitasi

Kolom Komentar

Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.

* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.

Subscribe ELIPKSI

Jangan Lewatkan

Jangan sampai Anda terlewatkan update buku terbaru dari ELIPSKI, segera berlanganan gratis melalui email.