Tazkiyatun Nafs sebagai Ikhtiar Merawat Jiwa di Tengah Tantangan Mental Illness (Gangguan Mental)

Tazkiyatun Nafs sebagai Ikhtiar Merawat Jiwa di Tengah Tantangan Mental Illness (Gangguan Mental)
Pengarang
Subdit Kepustakaan Islam 
Instansi
Kementerian Agama ri 
Kategori
Islam dan Kesehatan Mental 
Statistik Data
 
Tgl. Publish
Senin, 05 Oktober 2026 

Tazkiyatun Nafs sebagai Ikhtiar Merawat Jiwa di Tengah Tantangan Mental Illness (Gangguan Mental)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُۥ وَنَسْتَعِينُهُۥ وَنَسْتَغْفِرُهُۥ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُۥ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُۥ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُۥ لَا شَرِيكَ لَهُۥ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُۥ وَرَسُولُهُۥ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَصَحْبِهِۦ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Peringatan ini mengajak kita untuk kembali menyadari bahwa kesehatan manusia bukan hanya tentang kesehatan tubuh, tetapi juga kesehatan jiwa. Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan manusia hari ini. Kita semakin pandai merawat tubuh, tetapi belum tentu pandai merawat jiwa. Ketika badan sakit, kita tahu harus mencari pengobatan. Tetapi ketika pikiran terus gelisah, tidur terganggu, semangat menurun, atau ketika merasa tak lagi anggup melanjutkan hidup, sering kali kita tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan, kita sering terlalu cepat menghakimi, “Kurang bersyukur,” atau “Kurang dekat kepada Allah.”

Padahal gangguan mental tidak sesederhana itu. Ada persoalan biologis, psikologis, pengalaman hidup, lingkungan, tekanan sosial, dan berbagai faktor lain yang memengaruhinya. World Health Organization (WHO) menyebut gangguan mental sebagai persoalan kesehatan global yang besar. Pada 2019, sekitar satu dari delapan orang di dunia hidup dengan suatu gangguan mental. Ini berarti persoalan kesehatan mental bukan persoalan orang lain. Bisa jadi ada di sekitar kita. Bisa jadi ada di rumah kita. Bahkan mungkin suatu hari kita sendiri mengalaminya. Karena itu, orang yang mengalami gangguan mental membutuhkan pertolongan yang tepat.

Hadirin rahimakumullah,

Masalah kesehatan mental semakin terasa di tengah kehidupan generasi muda. Mereka tumbuh dalam dunia yang tidak pernah benar-benar berhenti: notifikasi, informasi, tuntutan, dan media sosial. Dulu seseorang mungkin membandingkan hidupnya dengan beberapa orang di sekitarnya. Sekarang seseorang dapat membandingkan dirinya dengan ratusan orang lain ia temui di berbagai platform media sosial. Dalam waktu yang sangat cepat dan sangat singkat ia akan melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, lebih cantik, lebih bahagia, lebih populer.

Kemudian ia akan bertanya pada dirinya sendiri, “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?” Padahal yang dilihat sering kali hanyalah potongan kehidupan orang lain. Ia melihat keberhasilan, tetapi tidak melihat kegagalan di belakangnya. Ia melihat senyum, tetapi tidak melihat air mata. Ia melihat pencapaian, tetapi tidak melihat perjuangan. Akhirnya manusia membandingkan kehidupan nyata miliknya dengan kehidupan yang sudah diedit milik orang lain. Di sinilah kita perlu kembali berbicara tentang jiwa.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Islam telah berbicara tentang persoalan jiwa jauh sebelum istilah mental health dikenal. Allah Swt berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.

“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Q.S. Al-Syams [91]: 7–10).

Bahkan penyucian jiwa merupakan bagian dari misi Rasulullah saw. Allah berfirman:

يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ.

“Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah).” (Q.S. Al-Jumu‘ah [62]: 2).

Dari sinilah kita mengenal konsep tazkiyatun nafs. Secara harfiah, kata tazkiyah berarti penyucian, pembersihan, sekaligus pertumbuhan. Jadi, tazkiyatun nafs bukan hanya membersihkan diri dari dosa, tetapi juga merawat dan menumbuhkan kualitas jiwa.

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Ghazali membahas manusia bukan hanya sebagai tubuh dan akal, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki qalb, nafs, ruh, dan ‘aql. Ia membahas penyakit-penyakit batin seperti kesombongan, iri hati, marah, cinta dunia yang berlebihan, serta bagaimana manusia melakukan mujahadah, riyadhah, muhasabah, dan pembentukan akhlak untuk memperbaiki dirinya.

Dalam kerangka pemikiran al-Ghazali, manusia tidak cukup hanya mengetahui mana yang baik. Ia harus melatih dirinya untuk mencintai yang baik dan membiasakan dirinya melakukan yang baik. Di sinilah tazkiyatun nafs menjadi proses. Bukan sekali jadi. Bukan setelah satu kali menangis dalam doa lalu semua masalah selesai. Tetapi perjalanan panjang untuk membersihkan diri, mengendalikan dorongan yang merusak, membangun kebiasaan baik, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Jemaah Jum’at rahimakumullah,

Lalu apa yang dilakukan tazkiyatun nafs? Pertama, muhasabah. Kita belajar berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang saya rasakan? Mengapa saya marah? Mengapa saya begitu takut? Mengapa saya terus memikirkan sesuatu? Apa yang sebenarnya sedang saya butuhkan? Tidak semua persoalan harus langsung kita jawab. Tetapi kita harus berani mengenal diri sendiri. Karena sesuatu yang tidak kita kenali sering kali sulit kita kendalikan.

Kedua, mujahadah. Kita melatih diri untuk tidak selalu mengikuti setiap dorongan hati. Marah tidak harus dibalas. Kecewa tidak harus berubah menjadi dendam. Keinginan tidak selalu harus dituruti. Dan pikiran negatif tidak harus selalu dipercaya.

Ketiga, mengingat Allah. Allah Swt berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ.

“Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (Q.S. Ar-Ra‘d [13]: 28).

Zikir bukan sekadar ucapan lisan. Zikir adalah cara manusia mengembalikan orientasi hidupnya kepada Allah ketika dunia terasa terlalu berat.

Keempat, menerima bahwa manusia mempunyai keterbatasan. Kita sering memaksa diri untuk selalu kuat. Padahal manusia memang bisa lelah. Nabi Ya'qub menangis ketika kehilangan Yusuf. Kesedihan itu begitu dalam. Allah menggambarkan:

وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰٓاَسَفٰى عَلٰى يُوْسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ.

“Dia (Ya‘qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, ‘Alangkah kasihan Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan).” (Q.S. Yusuf [12]: 84).

Apakah Nabi Ya’qub tidak beriman? Tentu saja ia beriman. Apakah beliau tidak dekat dengan Allah? Tentu saja ia merupakan hamba yang taat dan dekat kepada Allah. Beliau adalah seorang nabi. Tetapi beliau tetap mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Dan ketika anak-anaknya mempertanyakan kesedihannya, Nabi Ya'qub berkata:

إِنَّمَآ أَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ إِلَى اللّٰهِ.

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q.S. Yusuf [12]: 86).

Lihatlah jemaah sekalian! Nabi Ya'qub tidak menyangkal kesedihannya. Beliau tidak berpura-pura kuat. Beliau mengakui bahwa dirinya sedang terluka. Tetapi kesedihan itu beliau bawa kepada Allah. Inilah salah satu pelajaran besar tazkiyatun nafs: Kita boleh mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Tetapi jangan kehilangan tempat untuk berharap.

Rasulullah saw sendiri pernah menangis. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia, Rasulullah saw. menangis. Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا.

“Sesungguhnya mata ini berlinang air mata, hati ini bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridai Tuhan kami.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Maka menangis bukan berarti lemah. Merasa sedih bukan berarti gagal. Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja bukan berarti kita kehilangan iman. Yang berbahaya bukan ketika kita jatuh. Yang perlu kita waspadai adalah ketika seseorang jatuh dan dibiarkan menghadapi lukanya seorang diri.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada satu bahaya yang perlu kita hindari. Jangan sampai agama yang seharusnya menjadi sumber rahmat justru digunakan untuk membuat orang yang sedang terluka merasa semakin bersalah. Ketika seseorang berkata, “Saya tidak kuat lagi...” Jangan buru-buru merespons, “Aaah, dasar kurang iman.” Ketika seseorang mengatakan, “Saya sudah berusaha, tetapi saya masih merasa sangat berat.” Jangan langsung mengatakan, “Kamu kurang bersyukur.” Ketika seseorang sedang mengalami gangguan mental, jangan membuatnya merasa bahwa kelemahan dan masalahnya adalah aib.

Maka perlu kita tegaskan: tazkiyatun nafs bukan metode untuk mendiagnosis atau menggantikan terapi gangguan mental, tetapi merupakan ikhtiar spiritual yang membantu manusia membangun ketahanan batin, menemukan makna, mengelola dorongan diri, dan mempertahankan hubungan dengan Allah ketika menghadapi tekanan kehidupan. Orang yang mengalami depresi, gangguan kecemasan, trauma, atau gangguan mental lainnya tetap membutuhkan pertolongan profesional bila diperlukan. Zikir bukan alasan untuk menolak pengobatan. Salat bukan pengganti psikoterapi ketika seseorang membutuhkannya. Doa bukan alasan untuk menolak pertolongan dokter. Justru seorang muslim diperintahkan untuk berikhtiar. Rasulullah saw. bersabda:

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللّٰهِ، فَإِنَّ اللّٰهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً.

“Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menyediakan obatnya.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Jemaah Jum’at rahimakumullah,

Mari kita rawat jiwa kita sebagaimana kita merawat tubuh kita. Dekatkan diri kepada Allah, kenali diri kita, jaga hubungan dengan sesama, dan jangan ragu mencari pertolongan ketika beban terasa terlalu berat.

Semoga Allah menyucikan jiwa kita, menenangkan hati kita, menguatkan mereka yang sedang berjuang dalam diam, dan menjadikan kita manusia yang menghadirkan rahmat bagi sesama.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُۥ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ، ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُۥ لَا شَرِيكَ لَهُۥ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُۥ وَرَسُولُهُۥ، الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُۥ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَأَصْحَابِهِۦ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُونَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَّا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُۥ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُۥ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِۦ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

 

Form Generate Sitasi

Kolom Komentar

Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.

* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.

Subscribe ELIPKSI

Jangan Lewatkan

Jangan sampai Anda terlewatkan update buku terbaru dari ELIPSKI, segera berlanganan gratis melalui email.